Hi, Lykkers! Sepak bola putri di Indonesia dulu sempat tenggelam di balik gemerlap liga dan prestasi tim nasional putra.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, geliat sepak bola putri mulai mencuri perhatian, bahkan kini menjadi sorotan di kawasan ASEAN.
Dukungan federasi, meningkatnya kompetisi lokal, serta munculnya talenta muda membuat sepak bola putri Indonesia perlahan naik kelas.
Dari Bayang-Bayang ke Panggung Utama
Sejak lama, sepak bola dianggap olahraga yang didominasi laki-laki. Namun, generasi baru perempuan Indonesia menunjukkan bahwa lapangan hijau juga milik mereka. Meski sempat minim fasilitas, tidak populer, dan jarang disorot media, kini keadaan mulai berubah.
Liga 1 Putri yang sempat digelar pada 2019 menjadi salah satu titik awal kebangkitan. Meski sempat terhenti karena pandemi, semangat para pemain tetap menyala. Beberapa klub besar seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, dan Arema FC bahkan membentuk tim putri yang serius mengembangkan bakat pemain muda.
Talenta Muda yang Bersinar
Kebangkitan sepak bola putri Indonesia juga tidak lepas dari lahirnya para pemain muda yang penuh semangat. Nama-nama seperti Zahra Muzdalifah, Shalika Aurelia, hingga Safira Ika Putri menjadi wajah baru yang menginspirasi banyak remaja putri untuk berani bermimpi.
Shalika Aurelia bahkan tercatat sebagai pesepak bola putri Indonesia pertama yang bermain di Eropa, tepatnya di Italia bersama Roma Calcio Femminile. Kehadirannya menjadi bukti bahwa potensi pemain Indonesia mampu bersaing di level internasional.
Sorotan di ASEAN
Performa Timnas Putri Indonesia mulai mendapat perhatian saat berlaga di ajang Piala AFF Wanita dan SEA Games. Meski belum selalu mencatat hasil gemilang, keberanian, semangat, dan permainan yang terus berkembang membuat Indonesia diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara.
Di beberapa pertandingan, Timnas Putri menunjukkan perlawanan sengit melawan tim kuat seperti Thailand dan Vietnam. Dukungan suporter juga semakin terasa, terutama lewat media sosial yang ramai memberikan semangat kepada para Srikandi Garuda.
Dukungan yang Semakin Luas
Tidak bisa dipungkiri, perkembangan sepak bola putri juga didorong oleh dukungan publik dan sponsor. Kini, semakin banyak pihak yang melihat potensi pasar olahraga perempuan. Siaran pertandingan yang mulai ditayangkan di televisi dan platform digital ikut membantu meningkatkan eksposur.
Selain itu, sekolah sepak bola (SSB) putri juga mulai bermunculan di berbagai daerah. Hal ini memberi ruang bagi anak-anak perempuan untuk menyalurkan minat sejak dini, yang kelak bisa memperkuat tim nasional.
Tantangan yang Masih Ada
Meski progresnya positif, perjalanan sepak bola putri Indonesia masih panjang. Minimnya kompetisi reguler, fasilitas latihan yang belum merata, dan kesenjangan dukungan dibanding sepak bola putra masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Namun, dengan komitmen federasi, dukungan masyarakat, dan semangat para pemain, sepak bola putri Indonesia punya peluang besar untuk melangkah lebih jauh, bahkan hingga kancah Asia.
Sepak bola putri Indonesia kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari perkembangan olahraga nasional. Dari pemain muda berbakat hingga sorotan di ajang ASEAN, semua ini menandakan babak baru yang menjanjikan.
Dengan dukungan berkelanjutan, bukan tidak mungkin suatu hari nanti Garuda Pertiwi akan berdiri sejajar dengan tim-tim kuat Asia, membawa kebanggaan baru untuk Indonesia.