Saat kita melihat anak hewan mengejar ekornya, lumba-lumba berselancar di ombak, atau monyet bermain kejar-kejaran di pepohonan, kita tak bisa menahan senyum.
Momen-momen tersebut terlihat ceria dan spontan, namun ada pertanyaan menarik yang muncul: Mengapa hewan bermain?
Apakah itu sekadar hiburan, ataukah ada tujuan biologis dan evolusi yang lebih dalam di balik perilaku ini? Para ilmuwan telah menghabiskan bertahun-tahun untuk menyelidiki sifat bermain pada hewan, dan hasilnya mengungkapkan banyak wawasan mengejutkan tentang bagaimana perilaku ini membantu mereka bertahan hidup, berkembang, bahkan membentuk hubungan sosial. Dalam artikel ini, kami akan membahas apa yang dimaksud dengan bermain, mengapa hal ini sangat penting, dan apa yang dapat kita pelajari tentang kecerdasan serta emosi hewan dari perilaku bermain mereka.
Bermain pada hewan sering didefinisikan sebagai perilaku yang dilakukan secara sukarela, tampak tanpa tujuan langsung, dan biasanya terjadi dalam keadaan yang santai. Aktivitas ini bisa melibatkan gerakan tubuh, objek, bahkan interaksi sosial dengan sesama hewan. Perlu dicatat, bahwa meskipun bermain tidak berhubungan langsung dengan kelangsungan hidup, perilaku ini seringkali memberikan manfaat jangka panjang bagi hewan tersebut.
Para peneliti umumnya mengklasifikasikan perilaku bermain pada hewan menjadi tiga jenis utama:
Bermain Gerakan (Locomotor play): Termasuk lari, melompat, berputar, atau gerakan lainnya. Bayangkan seekor anak domba yang melompat-lompat di padang rumput.
Bermain Objek (Object play): Berinteraksi dengan benda-benda yang ada di lingkungan, seperti beruang laut yang menggigit batu atau otter yang bermain-main dengan objek.
Bermain Sosial (Social play): Terjadi antarhewan dalam bentuk kegiatan seperti bergulat, berkejar-kejaran, dan perkelahian pura-pura.
Setiap jenis bermain ini memiliki fungsi yang berbeda tergantung pada spesies, usia, dan lingkungan tempat mereka tinggal.
Perilaku bermain tidak hanya terbatas pada hewan peliharaan seperti kucing. Berbagai spesies hewan, mulai dari burung, reptil, mamalia, hingga beberapa jenis ikan, terlibat dalam aktivitas bermain. Contohnya:
- Burung gagak yang meluncur di atap rumah pada cuaca dingin tanpa alasan yang jelas.
- Lumba-lumba yang menciptakan gelembung udara dan kemudian mengejarnya.
- Gurita yang di penangkaran memainkan mainan dan objek dengan jelas terlihat menikmati aktivitas tersebut.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa bermain adalah perilaku yang luas di dunia hewan, meskipun bentuknya sangat bervariasi tergantung pada spesies.
Salah satu fungsi paling penting dari bermain adalah peranannya dalam perkembangan otak. Pada hewan muda, bermain merangsang bagian-bagian otak yang bertanggung jawab untuk pemecahan masalah, koordinasi, dan pengambilan keputusan. Menurut penelitian Dr. Sergio Pellis, bermain membantu menyambungkan korteks prefrontal otak, bagian yang mengatur kontrol impuls dan berpikir fleksibel. Dalam hal ini, hewan yang banyak bermain sejak muda cenderung lebih mudah beradaptasi ketika dewasa.
Fenomena ini mungkin menjelaskan mengapa spesies dengan otak yang lebih besar dan kompleks, seperti primata dan lumba-lumba, menunjukkan perilaku bermain yang lebih rumit.
Seringkali, bermain meniru keterampilan hidup yang sesungguhnya. Anak-anak predator, misalnya, sering terlibat dalam permainan mengintai dan melompat yang menyerupai kegiatan berburu. Sementara itu, spesies mangsa mungkin bermain kejar-kejaran untuk melatih reflek mereka. Latihan-latihan ini mempersiapkan mereka untuk tantangan kehidupan dewasa.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Animal Behaviour menemukan bahwa anak singa yang lebih banyak bermain dengan saudara-saudaranya memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi setelah mereka mandiri. Permainan ini memberi mereka keuntungan dalam hal keterampilan bertarung, pengejaran, dan ikatan sosial yang berguna di kehidupan dewasa.
Bermain sosial sangat penting untuk membangun hubungan antar individu dan memahami aturan sosial. Melalui permainan, hewan belajar kapan harus menahan agresi, bagaimana membaca bahasa tubuh, dan bagaimana berkolaborasi. Misalnya, serigala menggunakan sinyal permainan seperti "bow" untuk menunjukkan niat bersahabat sebelum bermain perkelahian pura-pura. Monyet dan kera seringkali terlibat dalam permainan seperti dicubit atau kejar-kejaran yang mempererat ikatan sosial kelompok mereka.
Menariknya, beberapa hewan dari spesies yang berbeda juga dapat bermain bersama. Misalnya, seekor kambing yang bermain dengan kucing atau gajah yang bermain dengan burung. Interaksi seperti ini menunjukkan bahwa bermain bisa membantu menjembatani batas sosial antar spesies.
Banyak ilmuwan meyakini bahwa bermain berhubungan dengan emosi positif pada hewan. Meskipun kita tidak bisa bertanya langsung kepada mereka, tanda-tanda perilaku seperti menggoyangkan ekor, vokalisasi, atau postur tubuh yang santai dapat mengindikasikan bahwa hewan merasa senang saat bermain.
Neuroscientist Dr. Jaak Panksepp menemukan bahwa tikus mengeluarkan suara tinggi yang mirip dengan tertawa saat mereka bermain atau ditimpa sensasi geli. Penelitian ini menunjukkan bahwa hewan tidak hanya terlibat dalam bermain, tetapi juga merasakan kebahagiaan melalui aktivitas tersebut.
Meskipun kebanyakan bermain terlihat pada hewan muda, beberapa spesies terus bermain hingga dewasa, terutama pada spesies yang sangat cerdas dan sosial, seperti lumba-lumba, gajah, dan beberapa jenis burung.
Mengapa hewan dewasa masih bermain jika itu tidak langsung berhubungan dengan kelangsungan hidup? Salah satu teori menyebutkan bahwa bermain pada hewan dewasa dapat membantu meredakan stres, meningkatkan keharmonisan kelompok, atau bahkan merangsang kreativitas dalam memecahkan masalah. Dengan cara ini, bermain tetap menjadi alat yang penting untuk kesejahteraan sepanjang hidup.
Bermain sering dikaitkan dengan fleksibilitas kognitif, rasa ingin tahu, dan kreativitas. Semakin bervariasi dan inventif permainan yang dilakukan, semakin besar kemungkinan spesies tersebut memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Peneliti telah mencatat bahwa spesies yang mampu menggunakan alat atau yang menunjukkan kesadaran diri seperti gagak, kera, dan lumba-lumba, juga menunjukkan perilaku bermain yang lebih kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk terlibat dalam permainan dan menikmatinya bisa mencerminkan kapasitas mental yang lebih dalam.
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap seberapa banyak hewan bermain. Hewan yang tinggal di habitat yang aman dan kaya akan rangsangan cenderung bermain lebih banyak. Sebaliknya, hewan yang berada dalam kondisi yang keras atau penuh tekanan sering kali mengurangi atau menghentikan perilaku bermain mereka.
Hal ini memiliki implikasi besar untuk kesejahteraan hewan. Kebun binatang dan tempat perlindungan yang menyediakan mainan, ruang, dan interaksi sosial yang cukup dapat mendorong perilaku yang lebih sehat dan aktif. Ini juga membantu para peneliti dalam menilai kesejahteraan emosional hewan-hewan tersebut.
Meski terlihat lucu, bermain pada hewan adalah perilaku yang sangat bermakna. Bermain membangun tubuh, pikiran, dan hubungan sosial hewan. Ini membantu anak-anak hewan mempersiapkan diri menghadapi tantangan kehidupan dewasa dan memungkinkan hewan dewasa tetap terlibat secara mental dan sosial.
Jadi, lain kali Anda melihat seekor anak kucing bermain dengan benang atau lumba-lumba berselancar di ombak, ingatlah: mereka tidak hanya bersenang-senang, mereka juga sedang melakukan sesuatu yang cerdas!