Harga barang tidak selalu naik secara langsung. Kadang, yang terjadi justru lebih halus dan sulit dikenali, itulah yang disebut shrinkflation.
Fenomena ini menjadi strategi tersembunyi yang semakin sering digunakan perusahaan untuk mengelabui konsumen. Anda tetap membayar harga yang sama, tetapi mendapatkan produk yang lebih sedikit. Terdengar familiar?
Shrinkflation adalah istilah yang digunakan ketika ukuran, berat, atau jumlah suatu produk dikurangi tanpa diikuti dengan penurunan harga. Ini adalah strategi perusahaan dalam merespons kenaikan biaya produksi atau distribusi tanpa harus mengusik sensitivitas harga konsumen.
Daripada menaikkan harga yang bisa membuat pelanggan enggan membeli, perusahaan lebih memilih "menyusutkan" isi produk. Misalnya, jumlah lembar tisu dalam satu kotak dikurangi, isi sereal jadi lebih sedikit, atau sabun batang menjadi lebih tipis. Perubahan ini sering terjadi tanpa pemberitahuan jelas.
Ekonom Dr. Pippa Malmgren menjelaskan bahwa shrinkflation adalah saat produk dikurangi ukurannya, jumlahnya, atau isi per kemasan tetap sama harganya. Intinya, konsumen membayar sama, tapi mendapat lebih sedikit.
Beberapa faktor ekonomi utama yang mendorong terjadinya shrinkflation, antara lain:
1. Kenaikan Biaya Produksi:
Kenaikan harga bahan baku, upah pekerja, dan biaya energi membuat perusahaan harus mencari cara mempertahankan margin keuntungan. Salah satu cara termudah adalah mengurangi isi produk tanpa menurunkan harga.
2. Nilai Tukar Melemah:
Jika mata uang lokal melemah terhadap mata uang asing, harga barang impor atau komponen produksi ikut naik. Hal ini mendorong perusahaan menyesuaikan strategi harga.
3. Perilaku Konsumen (Price Stickiness):
Riset menunjukkan bahwa konsumen lebih reaktif terhadap kenaikan harga dibandingkan pengurangan ukuran produk. Artinya, mereka lebih cepat sadar saat harga naik, tetapi sering tidak menyadari isi produk berkurang.
4. Desain Kemasan yang Menipu:
Perusahaan kerap mendesain ulang kemasan agar terlihat sama, padahal isinya berkurang. Misalnya, botol cairan pembersih tetap berukuran besar tetapi isinya lebih sedikit.
Fenomena ini marak terjadi di berbagai produk rumah tangga, makanan, dan kebersihan. Sebagai contoh:
- Cairan pembersih yang dulu 1 liter kini hanya 850 mililiter, namun harga tetap sama.
- Snack yang awalnya 200 gram sekarang hanya 180 gram, seringkali disamarkan dengan label "formula baru" atau "kemasan ramah lingkungan".
Potongan kecil ini tampaknya sepele, tapi jika terjadi pada banyak produk dan berlangsung terus-menerus, dampaknya sangat terasa di keuangan rumah tangga.
Meski terlihat sepele, shrinkflation secara bertahap menggerus daya beli rumah tangga. Biaya hidup jadi lebih tinggi meskipun pengeluaran tampak "sama". Bagi mereka yang hidup dengan anggaran tetap atau penghasilan terbatas, hal ini bisa sangat membebani.
Aplikasi pengatur keuangan pun sering kali tidak bisa mendeteksi pengurangan ukuran produk, karena yang tercatat hanyalah nominal harga. Akibatnya, konsumen merasa pengeluaran stabil, padahal nilai barang yang dibeli menurun.
Untuk menjaga kestabilan keuangan di tengah strategi pasar seperti ini, berikut beberapa langkah cerdas yang bisa Anda lakukan:
1. Perhatikan Harga per Satuan:
Selalu cek harga per gram, liter, atau satuan lainnya, bukan hanya harga total produk.
2. Bandingkan dengan Versi Sebelumnya:
Coba cari informasi mengenai ukuran lama produk dan bandingkan dengan yang baru.
3. Hati-Hati saat Beli dalam Jumlah Besar:
Membeli dalam jumlah banyak memang terlihat hemat, tapi tetap perhatikan ukuran per satuan. Shrinkflation bisa terjadi juga di produk bulk.
4. Jangan Terlalu Setia pada Merek Tertentu:
Cobalah alternatif merek lain yang mungkin masih menawarkan ukuran asli dengan harga lebih baik.
5. Tinjau Kembali Kebutuhan Anda:
Evaluasi seberapa sering Anda menggunakan suatu produk. Mungkin bisa dikurangi frekuensi penggunaannya atau diganti dengan kategori produk lain yang lebih efisien.
Selain memengaruhi keuangan pribadi, shrinkflation juga bisa menciptakan distorsi dalam data inflasi nasional. Indeks harga konsumen (CPI) sering tidak memperhitungkan perubahan ukuran produk, sehingga angka inflasi resmi bisa tampak lebih rendah dari kenyataan.
Hal ini dapat mempengaruhi kebijakan ekonomi, penyesuaian gaji, dan keputusan investasi. Jika data inflasi terlihat stabil padahal daya beli masyarakat menurun, maka keputusan ekonomi bisa meleset dari kondisi lapangan yang sebenarnya.
Shrinkflation bukan sekadar taktik pemasaran sesaat. Ini adalah strategi jangka panjang yang secara halus memengaruhi pengeluaran Anda. Bahayanya bukan pada praktiknya, tetapi pada ketidaksadaran konsumen terhadap perubahan ini.
Literasi keuangan bukan hanya soal menabung atau berinvestasi, tapi juga soal memahami bagaimana strategi pasar berdampak pada konsumsi harian. Dengan mengenali gejala shrinkflation, Anda bisa menyesuaikan kebiasaan belanja dan mempertahankan keseimbangan keuangan keluarga.
Ingat, keputusan cerdas dalam berbelanja adalah bentuk perlindungan finansial yang paling efektif di tengah tekanan ekonomi dan perubahan strategi penetapan harga di pasar.
simak video "mengenal fenomena Shrinkflation "
video by " GrowWin"