Bayangkan ini: ratusan drone melayang di atas lahan tandus, melepaskan kapsul kecil berisi benih seperti parasut mini. Beberapa tahun kemudian, tempat yang dulunya gersang kini telah berubah menjadi hutan hijau yang rimbun.
Kedengarannya seperti adegan dari film fiksi ilmiah? Nyatanya, ini sedang terjadi sekarang, dan menjadi salah satu solusi cerdas yang bisa menyelamatkan bumi dari krisis iklim.
Setiap tahun, dunia kehilangan sekitar 10 juta hektare hutan, luasnya setara dengan negara Islandia! Penyebabnya beragam: pembukaan lahan untuk pertanian, pembangunan kota, penebangan liar, hingga dampak dari kebakaran hutan dan perubahan iklim. Reboisasi menjadi hal mendesak, namun metode tradisional masih terlalu lambat dan mahal.
Sebagai perbandingan, seorang penanam pohon berpengalaman hanya bisa menanam sekitar 800 hingga 1.000 pohon per hari. Memang luar biasa, tapi tetap belum cukup untuk menyaingi kecepatan kerusakan yang terjadi. Di sinilah peran drone menjadi sangat penting, teknologi ini mampu menanam puluhan ribu pohon per hari dengan presisi tinggi, bahkan di wilayah yang sulit dijangkau manusia.
Prosesnya biasanya dilakukan dalam dua tahap utama:
1. Pemetaan Area Tanam
Drone pertama-tama akan terbang di atas area sasaran untuk memetakan wilayah tersebut. Dilengkapi dengan kamera dan sensor, drone membuat peta 3D sambil menganalisis jenis tanah, tingkat kelembapan, dan paparan sinar matahari. Data ini digunakan untuk menentukan jenis pohon yang paling cocok ditanam di lokasi tersebut, demi meningkatkan tingkat keberhasilan tumbuh.
2. Menjatuhkan Benih
Setelah pemetaan selesai, drone akan dilengkapi dengan kapsul berisi benih. Ini bukan benih biasa, melainkan benih yang dibungkus dalam kapsul biodegradable berisi nutrisi, pupuk, dan lapisan pelindung. Saat jatuh ke tanah, kapsul ini akan pecah dan memberikan perlindungan awal bagi benih dari kondisi ekstrem serta serangan hama.
Perusahaan seperti Flash Forest di Kanada mengklaim bahwa teknologi mereka mampu menanam hingga 40.000 pohon per hari. Sementara BioCarbon Engineering di Inggris melaporkan kemampuan serupa. Angka ini sangat jauh dibandingkan dengan kemampuan manusia, menjadikannya revolusi dalam dunia reboisasi.
Kecepatan Luar Biasa
Apa yang sebelumnya memakan waktu berbulan-bulan, kini bisa dilakukan hanya dalam hitungan jam.
Menjangkau Daerah Sulit
Wilayah terpencil, pegunungan terjal, atau area pascabencana bisa dijangkau dengan mudah oleh drone.
Biaya Lebih Rendah
Teknologi ini memungkinkan reboisasi skala besar dengan anggaran yang lebih hemat, sangat ideal bagi pemerintah dan lembaga lingkungan.
Drone juga bisa kembali ke lokasi tanam untuk mengecek pertumbuhan bibit, bahkan mengumpulkan data untuk strategi penanaman selanjutnya.
Contoh Nyata yang Sudah Berhasil
Teknologi ini bukan hanya wacana, sudah digunakan di berbagai belahan dunia:
Myanmar: Drone digunakan untuk menanam kembali hutan mangrove yang sangat penting sebagai pelindung alami pesisir dari badai.
Australia: Setelah kebakaran hutan besar-besaran, drone diterjunkan untuk menaburkan benih pohon asli secara cepat di area yang hangus.
Kanada: Flash Forest menargetkan penanaman satu miliar pohon pada tahun 2028, terutama di wilayah yang terdampak penebangan liar dan kebakaran hutan.
Hasilnya pun menggembirakan, tingkat keberhasilan tumbuh pohon dari metode ini bisa menyaingi metode tanam manual, terutama bila disertai pemantauan lanjutan.
Meski menjanjikan, ada beberapa tantangan yang harus diselesaikan:
Tingkat Bertahan Benih
Tidak semua benih berhasil tumbuh. Faktor cuaca ekstrem, hama, dan kualitas tanah masih menjadi kendala utama.
Jenis Pohon yang Terbatas
Beberapa jenis pohon, terutama kayu keras, masih membutuhkan penanaman manual dengan perhatian khusus.
Biaya dan Keterampilan
Drone dan perangkat lunaknya cukup mahal, dan memerlukan operator terlatih.
Keragaman Ekosistem
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Untuk menciptakan ekosistem sehat, penanaman harus mempertimbangkan keragaman hayati.
Langkah selanjutnya adalah menggabungkan drone dengan kecerdasan buatan (AI). Bayangkan drone yang tak hanya menanam, tetapi juga memantau pertumbuhan pohon selama bertahun-tahun, mengenali pohon yang sakit, hingga memberikan nutrisi tambahan secara otomatis. Bahkan ada penelitian yang mengembangkan drone yang mampu "menembakkan" benih langsung ke dalam tanah agar lebih cepat berkecambah.
Kolaborasi antara drone dan tenaga manusia juga semakin populer. Drone digunakan untuk skala besar, sementara manusia menangani jenis-jenis pohon yang membutuhkan perawatan lebih spesifik. Gabungan ini bisa menjadi solusi ampuh untuk mengembalikan keseimbangan alam dengan cepat.
Siapa sangka suara dengungan di langit bisa jadi pertanda harapan baru bagi bumi? Di balik teknologi drone yang canggih, tersimpan potensi besar untuk menghijaukan kembali planet ini. Meski masih ada tantangan, manfaat yang ditawarkan jauh lebih besar.
Jadi, lain kali saat Anda melihat drone melintas, jangan langsung mengira itu hanya membawa paket. Bisa jadi, ia sedang menanam benih masa depan. Dan itu, tanpa diragukan lagi, adalah sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.