Migrain dengan aura dikenal luas sebagai kondisi neurologis yang unik, namun tahukah Anda bahwa ada tipe khusus yang berhubungan dengan gangguan pendengaran?
Inilah yang disebut aural migraine, yaitu bentuk migrain dengan aura yang menimbulkan gangguan sensori pada telinga, seperti telinga berdenging, suara terdengar aneh, atau bahkan hilangnya pendengaran sementara. Fenomena ini sering kali menjadi tanda peringatan sebelum fase sakit kepala dimulai, tetapi pada sebagian orang bisa muncul tanpa diikuti nyeri kepala sama sekali.
Aural migraine merupakan salah satu subtipe migrain dengan aura, di mana gejala utamanya berkaitan dengan perubahan persepsi pendengaran. Penderita dapat merasakan tinnitus (dengingan di telinga), suara terdengar lebih keras atau lebih pelan dari biasanya, hingga kesan suara menjadi terdistorsi. Aura ini sering kali disertai gejala neurologis lain seperti gangguan penglihatan berupa garis zigzag atau cahaya berkilau, sensasi kesemutan di wajah atau tangan, rasa pusing, bahkan kesulitan berbicara.
Semua gejala tersebut biasanya berkembang secara bertahap dalam waktu 5 hingga 60 menit, kemudian menghilang dengan sendirinya. Menariknya, pada sebagian orang terutama usia lanjut, fase aura ini bisa muncul tanpa pernah disertai sakit kepala. Kondisi ini dikenal sebagai migraine aura tanpa sakit kepala atau sering disebut juga silent migraine.
Hingga kini, mekanisme pasti mengapa aural migraine terjadi masih terus diteliti. Salah satu teori yang paling banyak diterima adalah adanya cortical spreading depression (CSD), yaitu gelombang perlambatan aktivitas listrik yang menyebar perlahan di permukaan otak. Gelombang ini memengaruhi fungsi normal sel saraf, sehingga menimbulkan gangguan pada area otak tertentu, termasuk korteks auditorius yang berperan dalam memproses suara.
Selain itu, sistem saraf trigeminal dan ketidakseimbangan zat kimia otak, terutama serotonin, ikut berperan dalam memicu baik fase aura maupun sakit kepala. Proses kompleks inilah yang membuat penderita mengalami gejala sensori sebelum rasa sakit muncul.
Gejala aural migraine biasanya muncul lebih dulu sebelum sakit kepala. Beberapa keluhan yang sering ditemui antara lain:
- Telinga berdenging atau mendengar suara aneh.
- Perubahan volume suara (terasa lebih keras atau lebih pelan).
- Kehilangan pendengaran sementara.
- Pusing berputar atau vertigo.
- Kesemutan, mati rasa, atau gangguan berbicara.
Gejala ini bersifat sementara dan sepenuhnya dapat pulih dalam waktu kurang dari satu jam. Karena sifatnya yang mirip dengan kondisi lain seperti stroke ringan (TIA), epilepsi, atau gangguan telinga bagian dalam, pemeriksaan medis sangat penting. Biasanya, dokter spesialis saraf akan menilai riwayat keluhan pasien, pola gejala, serta bila perlu menggunakan MRI atau CT scan untuk menyingkirkan penyebab lain. Pemeriksaan fungsi pendengaran juga dapat dilakukan untuk memperjelas diagnosis.
Migrain dengan aura, termasuk aural migraine, sering kali dipicu oleh faktor tertentu. Beberapa di antaranya meliputi:
- Stres berlebihan.
- Paparan cahaya terang atau berkedip.
- Perubahan hormon.
- Pola tidur yang tidak teratur.
- Konsumsi makanan tertentu seperti cokelat atau kafein.
- Suara keras atau lingkungan bising.
Selain itu, faktor genetik juga berperan besar. Bila salah satu anggota keluarga memiliki riwayat migrain dengan aura, kemungkinan Anda mengalami kondisi serupa akan lebih tinggi.
Mengelola aural migraine membutuhkan kombinasi antara perubahan gaya hidup dan terapi medis. Pendekatan utamanya meliputi:
- Menghindari pemicu: Kenali faktor yang memicu migrain Anda dan upayakan untuk menguranginya.
- Perbaikan gaya hidup: Tidur cukup, menjaga pola makan teratur, dan mengelola stres.
- Obat pereda serangan: Saat serangan muncul, dokter dapat meresepkan obat seperti triptan atau NSAID.
- Terapi pencegahan: Bila serangan sering terjadi, obat seperti beta-blocker, obat antiepilepsi, atau calcium channel blocker bisa dipertimbangkan.
Saat ini, belum ada terapi khusus yang secara langsung mengatasi gejala pendengaran pada aural migraine. Namun, dengan pengelolaan menyeluruh, frekuensi dan keparahan serangan dapat dikurangi.
Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Richard Lipton, pakar neurologi internasional, "Aural migraine merupakan gangguan sensori kompleks yang terkait dengan disfungsi kortikal, memberikan gambaran penting tentang bagaimana otak memproses sensasi dan rasa sakit."
Hal senada disampaikan oleh Prof. Peter Goadsby, ahli saraf terkemuka, bahwa "Mengenali dan mendiagnosis migrain aura dengan gejala auditorius secara tepat sangat penting agar tidak tertukar dengan kondisi neurologis lain yang lebih serius."
Aural migraine bukan hanya sekadar sakit kepala, melainkan sebuah fenomena neurologis unik yang melibatkan gangguan pendengaran dan sensasi aneh sebelum rasa nyeri muncul. Memahami gejala, mekanisme, serta faktor pemicu dapat membantu pasien dan dokter mengambil langkah pencegahan maupun pengobatan yang tepat.
Dengan kesadaran yang lebih baik, penderita bisa mengelola kondisi ini sehingga kualitas hidup tetap terjaga.