Siapa sih yang nggak ingin menjadi "morning person"? Kita sering membayangkan diri kita bangun pagi, meregangkan tubuh di bawah sinar matahari, menikmati secangkir teh, dan menulis daftar tujuan hidup.
Namun, kenyataannya sering kali jauh berbeda: kita terbangun dengan tergesa-gesa, menekan tombol snooze beberapa kali, mengambil ponsel, dan bergegas melewatkan sarapan (jika sempat makan sama sekali).
Kenyataannya, Anda tidak perlu rutinitas pagi yang sempurna yang terpenting adalah rutinitas yang bisa Anda ulangi setiap hari. Dan cara terbaik untuk mencapai itu bukan hanya melalui disiplin, melainkan dengan membuat rutinitas pagi yang sesuai dengan otak, tubuh, dan gaya hidup Anda. Lalu, bagaimana cara menyusun rutinitas pagi yang benar-benar bisa bertahan, tidak hanya seminggu, tetapi seumur hidup? Mari kita bahas!
Salah satu kesalahan terbesar yang sering dilakukan orang adalah merancang rutinitas pagi yang terlalu panjang atau ambisius. Misalnya, 60 menit untuk peregangan, 20 menit menulis jurnal, 45 menit membaca buku. Kedengarannya ideal, bukan? Namun, pada hari ketiga, saat kehidupan mulai sibuk, rutinitas semacam itu sering kali berakhir dengan kegagalan.
Kuncinya adalah memulai dengan hal yang sederhana. Cobalah untuk fokus pada 5 menit pertama. Benar, hanya 5 menit!
Menurut Dr. Andrew Huberman, seorang ahli saraf dari Universitas Stanford, rutinitas pagi memiliki peran besar dalam menstabilkan ritme sirkadian tubuh kita, yang memengaruhi kewaspadaan, hormon, dan suasana hati.
Ada dua hal penting yang disarankan oleh Dr. Huberman:
- Paparan sinar matahari dalam satu jam pertama setelah bangun tidur akan meningkatkan kortisol (jenis yang baik) dan membantu mengatur ulang jam internal tubuh Anda.
- Hindari paparan layar ponsel atau perangkat lainnya, karena bisa menyebabkan lonjakan dopamin yang mengarah pada penurunan energi di siang hari.
Alih-alih langsung mengejar rutinitas yang panjang dan rumit, mulailah dengan hal-hal kecil yang konsisten dan mudah dilakukan.
James Clear, seorang ahli perilaku dan penulis buku Atomic Habits, menyarankan kita untuk menggunakan teknik "habit stacking" atau penumpukan kebiasaan. Ini adalah cara untuk menambahkan kebiasaan baru yang lebih kecil dengan kebiasaan lama yang sudah terbentuk.
Contoh kebiasaan yang bisa dipadukan:
- "Setelah menyikat gigi, kami akan minum segelas air."
- "Saat menunggu roti panggang, kami akan menulis satu kalimat di buku catatan."
- "Setelah membuka tirai, kami akan meregangkan tubuh selama satu menit."
Kunci dari teknik ini adalah kebiasaan kecil yang terasa ringan dan mudah dilakukan. Seiring waktu, kebiasaan ini akan berkembang menjadi rutinitas yang bisa Anda lakukan tanpa harus berpikir panjang.
Lupakan rutinitas pagi yang sering Anda lihat di media sosial yang penuh dengan pencahayaan sempurna, smoothies hijau, dan foto-foto estetik lainnya. Rutinitas yang efektif untuk Anda mungkin jauh lebih sederhana dan sangat bergantung pada keadaan Anda.
Contohnya:
- Jika Anda seorang orang tua, rutinitas pagi mungkin perlu disesuaikan dengan waktu bangun anak Anda.
- Jika Anda bekerja larut malam, mungkin "pagi" Anda dimulai pukul 10 pagi.
- Jika Anda tinggal bersama orang lain, mungkin Anda tidak bisa menikmati keheningan, tapi Anda bisa menciptakan ritual dengan menggunakan earphone dan menyalakan lilin aromaterapi untuk menambah kedamaian.
Yang terpenting adalah bagaimana Anda merasa setelah melakukan rutinitas tersebut, bukan bagaimana tampilan atau kesempurnaannya.
Rutinitas pagi yang efektif tidak harus panjang dan rumit. Anda bisa merancangnya sekitar tiga elemen utama yang saling terkait:
Bangunkan Tubuh: Bisa dengan peregangan, jalan-jalan ringan, paparan sinar matahari, atau menyiramkan air dingin ke wajah.
Tenangkan Pikiran: Bisa dilakukan dengan menulis jurnal, menikmati keheningan, atau mengucapkan satu afirmasi positif.
Tentukan Tujuan: Anda bisa merencanakan hari Anda, membuat daftar 3 tugas utama, atau bertanya pada diri sendiri, "Apa fokus kami hari ini?"
Dengan tiga elemen ini, Anda sudah memiliki fondasi yang kuat untuk rutinitas pagi yang bisa berkembang secara alami, tanpa perlu checklist yang panjang.
Kita semua tahu, terkadang ada hari-hari di mana rutinitas pagi tidak terlaksana. Bisa karena begadang, rapat pagi, atau sakit. Tapi ingat, melewatkan satu hari bukan berarti Anda gagal.
Yang penting adalah kemampuan untuk bangkit lagi. Rutinitas pagi terbaik adalah yang fleksibel, bisa dipersingkat atau diperpanjang sesuai kebutuhan. Bahkan jika hanya ada waktu satu menit, tetap lakukan bagian terkecil dari rutinitas tersebut.
Alih-alih berkata, "Kami mulai lagi pada hari Senin," coba tanyakan pada diri Anda, "Apa yang bisa kami lakukan hari ini untuk tetap melanjutkan kebiasaan ini?"
Bagaimana rutinitas pagi Anda selama ini? Apakah terburu-buru dan penuh kekacauan, atau justru terasa tenang dan terfokus? Apa satu hal kecil yang bisa Anda lakukan besok untuk membuatnya sedikit lebih baik, hanya 5% saja?
Ingat, Anda tidak perlu merombak hidup Anda untuk memulai. Cukup mulai dengan langkah kecil, dan perubahan besar akan mengikuti. Setelah rutinitas pagi Anda berubah, segalanya cenderung mengikuti perubahan positif yang lebih besar dalam hidup Anda.
Jadi, siapkah Anda mencoba rutinitas pagi yang baru dan lebih baik?